Daftar Isi

Source: internetsehat.id

Seiring berkembangnya zaman, saat ini media sosial sudah menjadi sarana untuk berkomunikasi ataupun berekspresi sebebas mungkin. Namun, beberapa orang menggunakannya untuk hal-hal yang bersifat negatif. Salah satu contohnya adalah melakukan Tindakan cyberbullying. Tak terhitung sudah nyawa telah meninggal karena cyberbullying. Jumlah tersebut belum termasuk mereka yang harus menghadapi gangguan kesehatan jiwa seumur hidup karena menjadi korban kebencian di media sosial. Dengan kemudahan akses  ke Internet dan media sosial, sosialisasi mengenai cyberbullying sangatlah diperlukan.

Apa itu Cyberbullying?

Cyberbullying adalah sikap merundung atau bully dengan menggunakan platform internet sebagai wadah/tempat. Dari segi psikologis, cyberbullying merupakan bagian dari perilaku bullying. Hal ini biasanya dilakukan oleh individual tau kelompok, yang berujuan untuk menakuti korban, menjatuhkan mental para korban, dan menindas korban. Cyberbullying telah menjadi fenomena baru, terutama di kalangan anak muda. Dampak dari cyberbullying juga sangat besar, karena merusak psikologi seseorang. Dampak bagi korban cyberbullying dapat mempengaruhi Kesehatan mental mereka. Contohnya, korban mengalami stress, depresi, merasa tidak berguna, dan keinginan untuk mengakhiri hidup. Namun, banyak orang yang masih menganggap permasalahan ini sepele. Padahal Tindakan cyberbullying ini dapat berakibat fatal jika dibiarkan.

Dampak Cyberbullying

Ada beberapa dampak yang akan kita alami jika kita mengalami cyberbullying. Berikut adalah beberapa dampaknya.

  • Depresi

Korban cyberbullying mungkin akan merasa frustrasi, marah, takut, tidak berdaya, putus asa, terisolasi, malu, dan bahkan bersalah. Jika hal ini terjadi berulang kali dan semakin parah, korban mungkin berfikir untuk mengakhiri hidupnya.

  • Kesehatan Mental Terganggu

Korban cyberbullying berisiko menghadapi stres, depresi, kehilangan kepercayaan diri, kecemasan, dan gangguan stres pasca-trauma, yang tidak diragukan lagi akan mengubah stimulasi sistem imunitas kita.

  • Dikucilkan

Walaupun cyberbullying terjadi di media sosial, orang yang hidup di dunia nyata dapat melihatnya. Kita mungkin melihat komentar jahat menyerang kita dengan mata kepala sendiri. Faktanya, orang-orang ini dapat menjauh dari kita dan bahkan menyerang kita. Lagi pula, korban tidak hanya akan dilecehkan oleh cyberbullying, tetapi juga oleh lingkungan sosial.

Bentuk-bentuk cyberbullying

Bentuk-bentuk cyberbullying yang biasa terjadi di Indonesia yaitu.

  • Gangguan

Tindakan ini biasanya dilakukan dengan mengirim pesan melalu sms, email, dll. Pesan tersebut biasanya berisi ancaman, yang dilakukan secara terus menerus kepada korban. Tujuan pelaku melakukan tindakan ini biasanya agar korban merasa gelisah dengan gangguan ini.

  • Flamming

Flamming biasa dilakukan oleh dua orang atau lebih yang melakukan percakapan melalui media sosial. Para pelaku biasanya menggunakan kata-kata yang tidak sopan, kasar, vulgar,dan kata-kata ancaman.

  • Impersonation

Tindakan ini biasanya dilakukan dengan pelaku membuat akun palsu (fake account) dengan menggunakan data diri dari pelaku. Biasanya pelaku melakukan aksinya dengan mengirimkan pesan kesemua orang dengan tujuan menimbulkan padangan buruk terhadap korban.

  • Cyberstalking

Cyberstalking merupakan tindakan menguntit (stalking) korban dengan melakukan tindakan ancaman, pelecehan, dan pencemaran nama baik secara terus menerus.

  • Outing and Trickery

Outing adalah tindakan mengungkapkan rahasia orang lain. Biasanya berbentuk foto pribadi untuk menyebabkan rasa malu atau frustrasi kepada korban. Di sisi lain, trickery adalah strategi yang digunakan untuk membujuk korban untuk mendapatkan rahasia atau foto pribadi calon korban.

Penyebab Cyberbullying

Ada beberapa factor yang dapat menimbulkan adanya cyberbullying. 

  • Kemajuan teknologi yang pesat dan laju modernisasi yang juga cepat telah menyebabkan perubahan dalam tata letak kehidupan sosial. Tingginya penggunaan Internet membuat kaum muda rentan terhadap cyberbullying. Selain itu, sifat tidak langsung dari cyberbullying juga dapat mempengaruhi apakah seseorang melakukan cyberbullying.
  • Ketidaktahuan akan risiko hukum oleh Sebagian besar pelaku menyebabkan mereka melakukan hal ini. Mereka tidak tahu bahwa tindakan mereka melanggar hukum yang ada. Mereka tidak tahu bahwa hukuman pidana dapat dijatuhkan untuk tindakan ini.
  • Masa peralihan remaja merupakan masa dimana seorang anak beralih menuju seorang dewasa. Pada tahap ini, remaja cenderung melihat dan mempelajari hal-hal yang berbeda dari lingkungan sekitarnya. Pembelajaran semacam ini terjadi dalam kelompok-kelompok yang erat hubungannya satu sama lain, seperti anggota keluarga dan teman.

Menghadapi Cyberbullying

Meskipun cyberbullying sulit untuk diabaikan, ada beberapa hal yang dapat kita lakukan jika kita menjadi korban cyberbullying. Berikut adalah cara untuk menghadapinya.

  • Tidak Merespon komentar negatif

Merespon komentar dengan hal yang negatif atau menghina orang yang membuat komentar untuk membalas apa yang dia perbuat, dapat menambah masalah bagi kita.

  • Block

Block komentar negatif atau laporkan komentar mereka. Juga, jangan membacanya berulang-ulang, karena itu hanya akan membuat kita semakin marah dan kesal.

  • Percaya bahwa setiap orang tidak memiliki pandangan yang sama

Cobalah untuk terbuka terhadap pendapat orang lain. Anggaplah komentar negatif sebagai kritik untuk mengevaluasi diri kita agar lebih baik lagi.

  • Menjauhkan diri sejenak dari media sosial

Jika cyberbullying yang kita alami semakin parah, cobalah untuk menjauhkan diri dari media sosial sejenak. Mulailah dengan hobi atau aktivitas yang kita sukai yang tidak ada kaitannya dengan media sosial dan teknologi.

  • Cerita kepada orang yang paling kita percaya.

Jika kita sudah terkena dampak dari cyberbullying ini, kita dapat menceritakan kepada orang terdekat kita misalnya orang tua, saudara, atau bahkan jangan ragu untuk pergi ke psikolog.

Mencegah Cyberbullying

Terdapat beberapa cara agar kita terhindar dari cyberbullying. Berikut adalah contohnya.

  • Tidak terlalu sering memposting.

Jika kita terlalu sering memposting dengan jumlah yang sangat banyak. Mungkin, sebagian  orang bisa terganggu dengan banyaknya postingan kita buat yang mampir di feed mereka. Sebaiknya kita memposting dengan frekuensi yang sewajarnya.

  • Tidak memposting hal yang aneh.

Postingan yang aneh dan mengganggu dapat menyebabkan cyberbullying. Kita perlu berhati-hati saat memilih apa yang akan diposting di media sosial. Topik sensitif terkait politik dan SARA kerap menimbulkan banyak reaksi di media sosial. Kehati-hatian harus dilakukan saat memposting hal yang berkaitan dengan politik dan SARA untuk menghindari terjadinya cyberbullying dari pengikut akun media sosial kita.

  • Bijak dalam memilih postingan di media sosial.

Semakin banyak followers media sosial yang kita miliki, semakin besar peluang cyberbullying yang akan kita peroleh. Jadi, kita harus siap dengan resikonya jika postingan yang kita buat, akan mendapat banyak reaksi, dan tidak semuanya positif. Kita dapat mengatur kolom komentar agar tidak semua orang dapat memposting komentar, atau membatasi orang yang dapat melihat postingan kita, sehingga hanya orang tertentu yang dapat melihatnya. Namun, kita harus memilih orang yang dapat menerima postingan kita.

  • Bijak dalam berkomentar di media sosial.

Kita perlu tahu postingan apa yang bisa dan tidak bisa kita unggah di media sosial. Kita juga harus memilah mana yang baik dan mana yang buruk.

Dengan munculnya media sosial, sikap kita dalam bersosialisasi harus lebih bijak . Saat ini, kita juga harus menerapkan etika ketika berkomunikasi di media sosial. Karena kita tidak berkomunikasi secara tatap muka, apa yang kita posting di media sosial, baik di feed maupun di komentar, terkadang dapat menyakiti orang lain.

Menu